Pakde Karwo: Petani Jatim Stop Gunakan Pupuk Kimia

Gubernur Jatim Soekarwo meminta kepada para petani di Jatim agar tidak menggunakan pupuk kimia untuk pertanian. Pasalnya, pemprov pada tahun ini akan membagikan secara bertahap alat pembuat pupuk organik pada kelompok tani di Jatim. Tahun ini, ketergantungan petani Jatim pada pupuk kimia ditarget menurun 30-40 persen.

"Dengan pupuk organik, tentu lebih menguntungkan petani, karena ramah lingkungan dan cara pembuatannya pun relatif mudah. Dengan bahan dasar kotoran ternak saja, satu unit granulator (alat pembuat pupuk organik, red) bisa membuat 500 kilogram butiran pupuk organik dalam waktu satu jam," kata Pakde Karwo kepada wartawan seusai acara konser peringatan 1 tahun, Jumat (12/2/2010) malam.

Menurut dia, penggunaan pupuk kimia harus direduksi secara bertahap. Sehingga, kalau bisa hingga beberapa tahun mendatang, secara keseluruhan petani Jatim menggunakan pupuk organik. Pembuatan satu unit granulator senilai Rp 30 juta, dimana pada tahun ini seluruhnya dianggarkan Rp 18 miliar. Pada 2009 pemprov, pemprov telah membagikan alat sebanyak 660 unit. Tahun ini, pemprov menargetkan pembagian sebanyak 668 unit.

"Idealnya, perlu ditambahkan 668 unit lagi, sehingga tiap kecamatan di Jatim memiliki tiga unit alat untuk mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupupk kimia," imbuhnya.

Tahun ini, pemprov juga akan meningkatkan fungsi dan peran kelompok tani dalam menyusun dan mengajukan Rancangan Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dalam pendistribusian pupuk bersubsidi. Alokasi pupuk bersubsidi tahun ini, meliputi Urea sebanyak 1,325 juta ton, SP 36 sebanyak 200 ribu ton, ZA sebanyak 421.994 ton, NPK sebanyak 466.667 ton, dan pupuk organik sebanyak 206.267 ton.

"Pupuk bersubsidi itu diharap tidak menjadi ketergantungan bagi petani, karena pupuk itu itu hanya untuk tambahan saja," pungkasnya. (Beritajatim.Com, 13 Februari 2010)